Sabtu, 28 September 2013

HARI RAYA NYEPI DI BALI

    Hari Raya Nyepi untuk memperingati Tahun Baru Caka 1935 jatuh pada tanggal 12 Maret 2013,  Salah satu ciri unik perayaan hari raya Nyepi adalah adanya ogoh-ogoh. Entah sejak kapan tradisi mengarak ogoh-ogoh ini ada di Bali, tetapi yang jelas Nyepi rasanya kurang lengkap tanpa ogoh-ogoh.
      Buat anda yang belum tahu, ogoh-ogoh adalah sebuah patung yang diarak sehari menjelang Nyepi. Ukurannya berbagai macam namun biasanya cukup besar hingga membutuhkan belasan orang untuk mengangkatnya untuk diarak keliling desa. Bentuk ogoh-ogoh umumnya seram yang identik dengan “bhuta kala” namun seiring berkembangnya jaman banyak juga ogoh-ogoh berbentuk lucu, seperti sinchan, upin-ipin dan lainnya. Jika anda ingin tahu lebih banyak foto ogoh-ogoh, coba saja search di Google.
Ogoh-ogoh biasanya dibuat dengan bahan dasar kayu, bambu, kertas lalu di cat sedemikian rupa. Belakangan ini ogoh-ogoh lebih banyak dibuat dengan bahan dasar gabus. Pembuatan ogoh-ogoh umumnya didominasi oleh para pemuda, namun ada juga anak-anak dan orang tua.
          Para pemuda di setiap banjar (organisasi setingkat di bawah desa/kelurahan) hampir pasti mulai membuat ogoh-ogoh sekitar sebulan menjelang hari raya Nyepi. Organisasi pemuda di banjar biasanya disebut STT (Sekeha Teruna Teruni). Mereka biasanya menggunakan dana kas STT untuk membuat ogoh-ogoh, ditambah dengan dana sumbangan yang mereka pungut ke warga banjar dan perusahaan-perusahaan di lingkungan banjar masing-masing.
Terkadang, pemungutan sumbangan ini menjadi pemicu masalah. Biasanya ada saja oknum yang mencoba mengambil keuntungan dari pemungutan sumbangan ini, belum lagi ada yang merasa dipaksa untuk menyumbang dana ogoh-ogoh. Tapi itu masalah seperti itu tidak selalu ada kok, organisasi pemuda dan banjar biasanya sudah mengantisipasi masalah itu.
Asal tahu saja, dana pembuatan ogoh-ogoh tidaklah sedikit, umumnya sekitar 5 hingga 10 juta, bahkan ada yang lebih. Itu baru untuk pembuatan ogoh-ogoh, belum untuk konsumsi, pembuatan baju dan biaya lain ketika pengarakan ogoh-ogoh. Maka di jaman sekarang banyak ogoh-ogoh yang tidak langsung dibakar setelah selesai di arak. Kalau jaman dulu, selesai diarak, ogoh-ogoh langsung dibakar.
Pengarakan ogoh-ogoh umumnya dilakukan sehari sebelum Nyepi atau biasa disebut dengan hari Pengerupukan. Mulai sekitar pukul 18.00 ogoh-ogoh sudah mulai diarak keliling desa atau kelurahan hingga kembali ke banjar masing-masing sekitar pukul 22.00, di beberapa tempat bahkan hingga larut malam.
       Belakangan juga semakin marak dibuat lomba untuk ogoh-ogoh. Jadi ogoh-ogoh yang dilombakan selain diiringi gamelan balaganjur juga disertai dengan para penari dan dipentaskan dengan cerita dalang sedemikian rupa dan menjadi sangat menarik untuk ditonton. Di beberapa tempat karena banyak jumlah ogoh-ogoh, maka pengarakan ogoh-ogoh kadang sudah dimulai sejak siang. Ada juga lomba ogoh-ogoh yang digelar beberapa hari sebelum Pengerupukan, jadi di malam Pengerupukan hanya digunakan untuk mengarak ogoh-ogoh.
Nyepi memang tidak bisa dipisahkan dari ogoh-ogoh. Pembuatan ogoh-ogoh merupakan ajang untuk mencurahkan rasa seni dan segala unek-unek para pembuatnya yang biasanya masih berjiwa muda. Maka tak jarang bentuk ogoh-ogoh mencerminkan “aspirasi” mereka. Namun kadang pernah juga pembuatan ogoh-ogoh dilarang ketika menjelang Nyepi.
Biasanya itu disebabkan karena menjelang momen pesta politik. Karena pembuatan ogoh-ogoh seringkali ditunggangi oleh kepentingan politik tertentu yang ujung-ujungnya terjadi gesekan dan bentrokan ketika malam Pengerupukan. Dari sisi para pemuka agama Hindu, pengarakan ogoh-ogoh juga pernah mendapat kritikan.
           
    Karenasecara logika, ogoh-ogoh merupakan wujud “bhuta kala” / kekuatan jahat. Kekuatan jahat ini konon akan somya (berubah) menjadi baik setelah dilakukan upacara mecaru (sore hari). Jadi pada saat itu semua bhuta kala (termasuk dalam diri) sudah sirna. Nah, pengarakan ogoh-ogoh di malam hari ini dianggap malah kembali membangunkan bhuta kala tersebut.
  Entahlah, kenyataannya pengarakan ogoh-ogoh tetap dilakukan di Pengerupukan yaitu malam menjelang Nyepi. Dan dapat dipastikan mulai sore hingga malam tersebut kondisi lalu lintas akan lumpuh total, apalagi di pusat-pusat kota. Besok paginya, di hari raya Nyepi suasana akan sangat hening selama sehari semalam. Namun bagi anda yang belum puas melihat ogoh-ogoh, coba saja berkeliling lagi di hari Ngembak Geni (sehari setelah Nyepi). Karena seperti yang saya jelaskan diatas, ogoh-ogoh yang menghabiskan banyak biaya tersebut tidak langsung dibakar. Bahkan biasanya ada tulisan “for sale” di depan ogoh-ogoh itu.

                                                                                                                                                                                                                 Fiuh, rasanya sudah cukup banyak yang saya ceritakan tentang ogoh-ogoh menjelang Nyepi. Semoga saja Pengerupukan kali ini berjalan lancar dan tidak ada insiden yang akan menodai perayaan hari raya Nyepi kali ini. Berikut ini beberapa foto ogoh-ogoh di banjar saya.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar